Adat pernikahan china menawarkan sebuah tapestry budaya yang kaya, merangkai benang-benang tradisi kuno dengan harapan akan masa depan yang bahagia. Ini bukan sekadar serangkaian upacara, melainkan perayaan mendalam atas cinta, persatuan keluarga, dan warisan leluhur yang dihormati. Setiap detail, mulai dari persiapan awal hingga pesta meriah, dipenuhi dengan makna simbolis yang mendalam, mencerminkan filosofi hidup yang telah diwariskan turun-temurun.
Dari ritual pra-pernikahan yang melibatkan pemilihan tanggal baik dan seserahan sangjit yang penuh makna, hingga puncak perayaan di hari H dengan upacara teh yang sakral dan busana pengantin yang memukau, seluruh proses pernikahan Tionghoa adalah sebuah perjalanan spiritual. Berbagai simbol seperti warna merah, naga, dan phoenix, serta nilai-nilai penghormatan kepada orang tua dan persatuan, menjadi fondasi yang menguatkan ikatan suci ini, membentuk sebuah perayaan yang tak terlupakan.
Pra-Pernikahan: Persiapan dan Ritual Awal

Dalam adat pernikahan Tionghoa, fase pra-pernikahan memegang peranan krusial yang sarat akan makna dan tradisi. Ini bukan sekadar serangkaian acara, melainkan fondasi penting yang melambangkan restu, keharmonisan keluarga, dan harapan akan masa depan yang cerah bagi pasangan yang akan menikah. Setiap langkah yang diambil dalam periode ini dirancang untuk memastikan kelancaran dan keberkahan perjalanan pernikahan.Proses persiapan awal pernikahan Tionghoa dimulai jauh sebelum hari-H, melibatkan berbagai tahapan yang detail dan penuh pertimbangan.
Dari pemilihan tanggal yang dianggap baik hingga pertemuan formal antar keluarga, setiap aspek dijalankan dengan cermat, mencerminkan penghormatan terhadap leluhur dan nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.
Pemilihan Tanggal Baik dan Pertemuan Keluarga
Pemilihan tanggal pernikahan merupakan salah satu langkah pertama dan terpenting dalam persiapan pernikahan Tionghoa. Pasangan dan keluarga biasanya berkonsultasi dengan ahli feng shui atau menggunakan almanak Tionghoa (Tong Shu) untuk menemukan tanggal yang paling menguntungkan. Tanggal yang baik diyakini akan membawa keberuntungan, kemakmuran, dan keharmonisan dalam rumah tangga. Proses ini melibatkan perhitungan astrologi berdasarkan shio dan tanggal lahir calon pengantin, serta mempertimbangkan hari baik untuk upacara, jamuan, hingga pemasangan ranjang pengantin.Setelah tanggal yang cocok disepakati, tahapan selanjutnya adalah pertemuan resmi antara kedua keluarga.
Pertemuan ini, sering disebut sebagai `jian mian` atau pertemuan tatap muka, berfungsi sebagai ajang perkenalan yang lebih mendalam dan formal. Tujuannya adalah untuk membangun silaturahmi, membahas detail-detail awal pernikahan, serta menegaskan komitmen kedua belah pihak terhadap penyatuan keluarga. Dalam pertemuan ini, seringkali dibicarakan pula mengenai adat istiadat yang akan diikuti, termasuk tradisi pertunangan dan lamaran, serta pembagian tanggung jawab antara keluarga mempelai pria dan wanita.
Perbedaan Sangjit dan Tunangan dalam Budaya Tionghoa
Dalam tradisi Tionghoa, seringkali terjadi sedikit kebingungan antara proses `Sangjit` dan `Tunangan`. Meskipun keduanya merupakan bagian dari pra-pernikahan, terdapat perbedaan mendasar dalam tujuan, proses, dan pihak yang terlibat. Berikut adalah perbandingan yang lebih jelas untuk memahami kedua ritual penting ini.
| Aspek | Sangjit (Lamaran) | Tunangan (Pertunangan) |
|---|---|---|
| Tujuan Utama | Menyampaikan niat serius melamar secara resmi, menyerahkan seserahan simbolis sebagai bentuk keseriusan dan penghormatan kepada keluarga calon mempelai wanita. | Mengikat janji secara formal di hadapan keluarga dan saksi, seringkali melibatkan pertukaran cincin sebagai simbol komitmen untuk menikah. |
| Proses | Rombongan keluarga calon mempelai pria datang ke rumah calon mempelai wanita membawa nampan berisi seserahan. Ada prosesi penyerahan dan penerimaan, serta dialog antar keluarga. | Acara yang lebih formal, bisa diselenggarakan di restoran atau rumah, dengan pertukaran cincin, pembacaan janji, dan seringkali diikuti dengan jamuan makan. |
| Pihak yang Terlibat | Terutama keluarga inti calon mempelai pria dan wanita, serta beberapa kerabat dekat yang membantu membawa seserahan. | Keluarga inti dan besar dari kedua belah pihak, serta teman-teman dekat, sebagai saksi ikatan pertunangan. |
| Simbol Utama | Nampan seserahan berisi barang-barang simbolis seperti perhiasan, makanan manis, buah-buahan, dan uang angpao. | Cincin pertunangan yang disematkan di jari calon mempelai wanita. |
Seserahan Sangjit yang Penuh Makna Simbolis
Seserahan `Sangjit` adalah salah satu elemen paling menarik dan kaya makna dalam tradisi pra-pernikahan Tionghoa. Setiap barang yang dibawa dan penataannya memiliki arti mendalam yang melambangkan harapan baik bagi kehidupan pasangan. Umumnya, seserahan ini diletakkan di atas nampan atau kotak merah yang dihias indah, dibawa oleh rombongan keluarga mempelai pria.Salah satu item utama adalah perhiasan emas, seperti kalung, gelang, atau anting, yang seringkali dikenal sebagai `Si Dian Jin` (empat potong emas).
Perhiasan ini melambangkan kekayaan, kemakmuran, dan harapan agar mempelai wanita selalu hidup berkecukupan. Penataannya biasanya menonjolkan kilau emas, seringkali di atas kain beludru merah dalam kotak perhiasan yang elegan. Kue mangkok atau kue-kue tradisional Tionghoa lainnya juga selalu ada. Kue mangkok yang mekar sempurna melambangkan kemakmuran dan perkembangan yang baik dalam rumah tangga. Kue-kue ini biasanya ditata rapi di atas nampan, seringkali dengan warna merah muda atau merah terang, melambangkan kebahagiaan dan keberuntungan.
Buah-buahan tertentu memiliki makna simbolis yang kuat. Jeruk (kam) melambangkan keberuntungan dan rezeki, apel (ping guo) melambangkan kedamaian, dan pir (li) melambangkan kemakmuran. Buah-buahan ini ditata dengan apik, seringkali membentuk piramida kecil atau pola tertentu, kadang dihiasi dengan pita merah atau stiker `xi` (kebahagiaan ganda).Selain itu, ada juga uang angpao atau uang susu (rupiah atau dolar Singapura/Hong Kong), yang melambangkan dukungan finansial dan penghormatan kepada orang tua mempelai wanita.
Angpao ini sering diselipkan di antara barang-barang seserahan lainnya atau diletakkan dalam amplop merah yang elegan. Barang-barang lain seperti lilin naga dan phoenix melambangkan persatuan dan keharmonisan pasangan, serta sepasang ayam jago dan betina (jika ada) melambangkan kesuburan dan keturunan. Semua item ini ditata sedemikian rupa untuk menciptakan tampilan yang mewah, penuh warna merah, dan sangat bermakna.
Variasi Regional Ritual Pra-Pernikahan Tionghoa, Adat pernikahan china
Meskipun ada benang merah tradisi yang sama, ritual pra-pernikahan Tionghoa menunjukkan variasi yang menarik antar wilayah atau kelompok etnis. Perbedaan ini mencerminkan sejarah migrasi, adaptasi budaya lokal, dan penekanan nilai-nilai tertentu dalam komunitas. Memahami variasi ini memberikan gambaran yang lebih kaya tentang keragaman budaya Tionghoa.Berikut adalah beberapa perbedaan yang sering ditemui dalam ritual pra-pernikahan berdasarkan kelompok etnis:
-
Hokkien: Tradisi Hokkien seringkali dikenal dengan seserahannya yang lebih detail dan berlimpah. Mereka memiliki penekanan kuat pada makanan dan minuman manis, seperti kue-kue tradisional yang beragam, manisan, dan teh manis, yang melambangkan kehidupan pernikahan yang manis dan makmur. Ritual `Si Dian Jin` (empat potong emas) juga sangat ditekankan, dan seringkali ada ritual khusus untuk `Guo Da Li` (pemberian hadiah pertunangan) yang sangat formal.
Jumlah nampan seserahan juga cenderung lebih banyak, seringkali dalam jumlah genap seperti 6, 8, atau 12 nampan.
-
Kanton: Etnis Kanton cenderung menonjolkan perhiasan emas, khususnya `Si Dian Jin`, yang dianggap sebagai investasi dan simbol kekayaan. Mereka juga sering menyertakan babi panggang utuh sebagai seserahan utama, melambangkan kesuburan dan kemakmuran yang melimpah. Ritual `Guo Da Li` mereka juga sangat penting, di mana keluarga mempelai pria membawa seserahan ke rumah mempelai wanita dengan diiringi parade.
Angpao atau uang tunai yang diberikan juga seringkali dalam jumlah yang cukup besar.
-
Hakka: Tradisi Hakka seringkali dianggap lebih sederhana dan praktis dibandingkan etnis lain, namun tetap kaya makna. Seserahan mereka mungkin tidak sebanyak atau semewah Hokkien atau Kanton, namun fokus pada barang-barang yang memiliki nilai guna dan simbolisme yang kuat, seperti teh, kue tradisional, dan perhiasan emas yang lebih minimalis. Penekanan seringkali diberikan pada kesatuan keluarga dan kerja keras, dengan ritual yang lebih fokus pada doa dan restu dari orang tua.
Mereka mungkin juga memiliki hidangan khas tertentu yang disajikan selama pertemuan keluarga.
- Teochew: Mirip dengan Hokkien, etnis Teochew juga memiliki seserahan yang detail dengan banyak makanan manis dan kue tradisional. Salah satu ciri khas mereka adalah pemberian dua pasang lilin naga dan phoenix yang besar, yang akan dinyalakan pada malam sebelum pernikahan di rumah mempelai wanita dan pria, melambangkan harapan akan persatuan dan keharmonisan abadi.
Simbolisme dan Makna Mendalam dalam Tradisi Pernikahan Tionghoa: Adat Pernikahan China

Pernikahan Tionghoa bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan sebuah perayaan yang sarat akan simbolisme dan makna mendalam. Setiap warna, objek, hingga ritual yang dilakukan, membawa harapan dan doa untuk kebahagiaan, kemakmuran, serta keharmonisan bagi pasangan pengantin dan keluarga mereka. Memahami simbol-simbol ini akan membuka jendela ke filosofi kuno yang menghargai nilai-nilai luhur dalam ikatan suci pernikahan.
Warna Merah dan Simbol Keberuntungan Utama
Warna merah mendominasi setiap aspek pernikahan Tionghoa, mulai dari gaun pengantin hingga dekorasi. Warna ini bukan hanya sekadar pilihan estetika, melainkan simbol kuat yang melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, kemakmuran, dan kemampuan untuk mengusir roh jahat. Selain merah, ada dua simbol hewan mitologi yang tak terpisahkan dari tradisi pernikahan Tionghoa, yaitu naga dan phoenix. Naga merepresentasikan kekuatan maskulin, keberanian, dan kesuksesan, seringkali dihubungkan dengan pengantin pria.
Sementara itu, phoenix melambangkan keanggunan feminin, keindahan, dan kebangkitan, mewakili pengantin wanita. Ketika naga dan phoenix disatukan, mereka melambangkan keseimbangan sempurna antara Yin dan Yang, menandakan pernikahan yang harmonis, penuh berkah, dan langgeng.
Makna di Balik Item Pernikahan Tionghoa
Berbagai item yang digunakan dalam upacara pernikahan Tionghoa memiliki peran penting dalam menyampaikan harapan dan doa. Setiap benda bukan hanya dekorasi, tetapi pembawa pesan spiritual yang bertujuan untuk memberkati pasangan dengan kehidupan yang bahagia, sejahtera, dan penuh cinta. Pemilihan dan penggunaan item-item ini telah diwariskan secara turun-temurun, menjaga kekayaan budaya dan keyakinan leluhur.
| Item | Makna | Tujuan | Tradisi Penggunaan |
|---|---|---|---|
| Lilin Naga-Phoenix | Melambangkan persatuan sempurna antara Yin (phoenix) dan Yang (naga), penerangan jalan baru bagi pasangan. | Mengusir roh jahat, membawa keberuntungan, dan memberkati pasangan dengan keturunan serta kehidupan pernikahan yang langgeng. | Dinyalakan pada malam sebelum atau sesudah upacara pernikahan, seringkali selama upacara minum teh, sebagai simbol penyatuan dua keluarga dan harapan masa depan yang cerah. |
| Payung Merah | Simbol perlindungan dari roh jahat, kemurnian, dan kesuburan. Warna merah juga membawa keberuntungan. | Melindungi pengantin wanita dari pengaruh negatif atau nasib buruk saat ia meninggalkan rumah orang tuanya untuk menuju rumah mempelai pria. | Dipegang oleh mak comblang atau anggota keluarga wanita yang sudah menikah dan memiliki keluarga bahagia, saat pengantin wanita berjalan keluar dari rumah orang tuanya. |
| Sisir Pengantin (Ritual Menyisir Rambut) | Representasi transisi dari masa lajang ke kehidupan berumah tangga, harapan akan umur panjang, kesuburan, dan kemakmuran. | Memberkati pengantin dengan kebahagiaan, umur panjang, harmoni, dan keturunan yang berlimpah. | Dilakukan oleh wanita yang sudah menikah dan beruntung (biasanya ibu pengantin wanita atau wanita yang dihormati) pada malam sebelum pernikahan, sambil mengucapkan doa keberuntungan di setiap sisiran. |
Pepatah Tradisional tentang Pernikahan
Kearifan leluhur Tionghoa seringkali terangkum dalam pepatah atau kutipan tradisional yang sarat makna. Pepatah-pepatah ini bukan sekadar kata-kata, melainkan cerminan dari harapan, doa, dan filosofi hidup tentang ikatan pernikahan yang ideal. Mereka menjadi pengingat akan pentingnya cinta, kesetiaan, dan keharmonisan dalam membina rumah tangga.
“百年好合” (bǎi nián hǎo hé)Seratus tahun kebahagiaan dan keharmonisan. Pepatah ini menjadi doa agar pasangan dapat hidup bersama dalam kebahagiaan dan keselarasan selama seratus tahun, atau seumur hidup.
“琴瑟和鸣” (qín sè hé míng)Seperti kecapi dan seruling yang selaras. Ungkapan ini menggambarkan pasangan yang sangat serasi dan harmonis, di mana keduanya saling melengkapi dan menciptakan melodi kehidupan yang indah bersama.
Nilai Keluarga dan Filosofi Ritual Pernikahan
Pernikahan Tionghoa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga dan filosofi penghormatan yang mendalam. Setiap ritual yang dilakukan bukan hanya untuk pasangan, tetapi juga untuk menyatukan dua keluarga besar. Salah satu ritual paling fundamental adalah upacara minum teh atau “Jing Cha” (敬茶). Dalam upacara ini, pengantin baru berlutut dan menyajikan teh kepada orang tua dan tetua dari kedua belah pihak keluarga. Tindakan ini merupakan ekspresi tulus dari rasa hormat, terima kasih, dan pengakuan atas peran serta pengorbanan orang tua dalam membesarkan mereka.
Melalui upacara ini, pengantin juga secara resmi diterima ke dalam keluarga baru mereka, dan ikatan kekerabatan diperkuat.Filosofi persatuan keluarga juga tercermin dalam setiap langkah prosesi pernikahan. Pernikahan dianggap sebagai penyatuan dua klan, bukan hanya dua individu. Oleh karena itu, ritual-ritual dirancang untuk memastikan bahwa kedua keluarga merasa terhormat dan menjadi bagian integral dari perayaan tersebut. Selain itu, konsep keselarasan (harmony) menjadi inti dari banyak ritual, mulai dari pemilihan tanggal yang baik hingga tata letak ruangan.
Ini mencerminkan keyakinan bahwa keselarasan dalam hubungan, baik antara pasangan maupun dengan keluarga dan lingkungan, akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan yang langgeng. Penghormatan kepada orang tua dan leluhur, serta penguatan ikatan keluarga, adalah pilar utama yang mendasari setiap tradisi dalam pernikahan Tionghoa.
Kesimpulan Akhir

Pada akhirnya, adat pernikahan china adalah lebih dari sekadar rangkaian acara; ia adalah manifestasi hidup dari filosofi, nilai-nilai, dan harapan yang dipegang teguh oleh masyarakat Tionghoa. Setiap ritual, setiap simbol, dan setiap doa yang terucap merupakan cerminan dari keinginan akan kebahagiaan, keharmonisan, dan keberlangsungan garis keturunan. Dengan memahami kedalaman tradisi ini, tidak hanya mengapresiasi keindahan budayanya, tetapi juga menghargai kekuatan cinta dan persatuan yang menjadi inti dari setiap pernikahan.
Pertanyaan dan Jawaban
Mengapa tanggal pernikahan Tionghoa sering dipilih berdasarkan kalender lunar?
Pemilihan tanggal baik didasarkan pada perhitungan astrologi dan shio calon pengantin untuk memastikan keberuntungan dan keharmonisan rumah tangga.
Apa itu “Angpao” dalam pernikahan Tionghoa?
Angpao adalah amplop merah berisi uang yang diberikan oleh tamu kepada pasangan pengantin sebagai hadiah dan simbol keberuntungan.
Bolehkah pengantin wanita Tionghoa mengenakan gaun pengantin putih?
Ya, banyak pengantin Tionghoa modern memilih gaun putih untuk upacara pemberkatan atau resepsi, seringkali dikombinasikan dengan Qipao atau Kua untuk upacara tradisional.
Apa peran mak comblang dalam pernikahan Tionghoa tradisional?
Mak comblang (matchmaker) secara tradisional membantu mencarikan pasangan yang cocok dan memfasilitasi pertemuan awal antar keluarga, meskipun peran ini kini kurang dominan.

